Budaya Mistis Populer di Indonesia

Indonesia masih terkenal sangat kuat dalam mempercayai kepercayaan kuno yang diwariskan oleh keluarga. Meskipun umumnya beberapa daerah kota besar sudah mulai meninggalkan kepercayaan itu, namun di beberapa kota kecil di daerah-daerah tertentu, masih sangat kuat mempercayai akan hal ini. Dapat disaksikan pada sikap masyarakatnya yang lebih gentar dalam menyikapi isu mistis dan hal-hal gaib, terutama yang populer di wilayahnya masing-masing. Banyak tempat maupun obyek-obyek keramat juga dipercayai memiliki kekuatan tertentu. Meskipun faktor daya dan tenaga seperti listrik sudah memasuki daerah tersebut, namun seringkali dalam waktu malam hari mereka tetap merasa takut untuk bepergian keluar rumah. Terlebih lagi jika harus keluar sendiri atau melewati daerah tertentu yang dianggap angker atau keramat. Selain memegang kuat kepercayaan tradisional, aneka kebudayaan tradisional juga masih dipegang kuat, dimana hal ini menjadi faktor masih berkembang kuatnya kepercayaan akan tradisi dan kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun.

Kepercayaan Untuk Alam

Beberapa hal dipercayai masyarakat setempat sebagai bentuk untuk menghormati alam ini sebagai suatu hal yang memiliki kekuatan. Dan dikerenakan alam dianggap seolah-olah juga memiliki kekuatan, muncul berbagai kepercayaan yang menyebutkan bahwa alam juga memiliki sifat seperti layaknya manusia atau hewan. Alam yang mereka percayai dianggap sering meminta bentuk penghormatan. Seperti beberapa cerita akan tindakan pengorbanan yang sering dilakukan di daerah-daerah pedalaman, atau juga sering dijadikan cerita dalam film modern bertema horor maupun thriller. Dan dengan memberlangsungkan perayaan ini, umumnya masyarakat setempat percaya bahwa alam akan memberikan hasil yang baik bagi panen mereka di masa mendatang.

1. Festival Pasola, Sumba

Pasola adalah nama dari sebuah kegiatan perang yang menjadi ritual berdarah yang menjadi kepercayaan di daerah ini. Pasola sendiri diambil dari kata ‘pa’ yang berarti permainan dan ‘sola’ yang berarti tombak atau lembing kayu, dan merupakan adat dari Marapu, kepercayaan lokal masyarakat Sumba. Festival ini dapat digambarkan sebagai wujud kegiatan kolosal seperti yang ditampilkan dalam film-film serupa, hanya bedanya ini nyata tanpa narasi maupun settingan yang dibuat. Kegiatan ini umumnya diadakan kisaran awal bulan februari hingga bulan maret. Namun waktu pastinya tidak ditetapkan, karena biasanya baru diputuskan oleh pemuka agama setempat sekitar 1 – 2 minggu sebelumnya. Kebiasaan ini berlangsung selama beberapa sekali secara bergantian diadakan di beberapa desa yang berada di Kabupaten Sumba Barat. Perayaan festival ini dilakukan oleh dua kelompok yang terdiri dari laki-laki terpilih di pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Saat sudah siap, para lelaki ini kemudian masing-masing menaiki kuda dan berusaha melukai satu sama lainnya menggunakan tombak tumpul berbahan kayu dengan cara dilempar. Meskipun tumpul, tombak ini dipercaya dapat melukai para pria yang berada di medan hingga berdarah. Masyarakat Sumba pun mempercayai bahwa mereka yang meninggal akibat perayaan ini telah melakukan suatu pelanggaran sosial atau kesalahan sebelumnya, sehingga perlu dihukum dengan cara diambil nyawanya oleh Dewa. Meskipun mengalami persitegangan selama festival Pasola ini, peraturan setempat mencatat bahwa tidak boleh ada dendam yang terjadi antar kedua belah pasukan. Dan jikalau terjadi amarah, hanya boleh diselesaikan pada pertandingan Pasola yang berikutnya.

Festival Kepercayaan Pasola

Para laki-laki ini mengenakan atribut warna-warni dalam melakukan atraksi Pasola. Para kuda yang ditunggangi juga dikenakan atribut hiasan berwarna-warni yang cukup meriah. Menurut kepercayaan setempat, mereka percaya bahwa setiap darah yang keluar dapat memberi kesuburkan pada tanah dan bermanfaat bagi hasil panen berikutnya. Maka dari itu acara ini juga diselenggarakan sebagai ucapan syukur kepada dewa. Bagi pengunjung yang ingin menyaksikan pertunjukkan ini dengan baik dapat mencari lokasi yang cukup jauh dari medan festival, serta pastikan terlebih dahulu lokasi yang memungkinkan untuk dapat pergi berlindung jika terjadi kerusuhan setelah festival selesai. Mirip seperti acara pertandingan bola, kerusuhan juga menjadi hal yang lumrah untuk terjadi akibat dari ketidakpuasan penonton akan festival yang ditunjukkan. Acara ini sering disebut hanya merupakan settingan semata untuk memajukan faktor wisata dari kawasan NTT demi mendatangkan turis yang dibuat penasaran.

2. Ritual Ma’ Nene, Sulawesi

Tradisi Manene Toraja

Masyarakat Toraja yang mendiami wilayah Sulawesi Selatan percaya bahwa roh leluhur yang sudah meninggal tidak pernah meninggalkan keluarganya. Sehingga mereka meyakini bahwa roh-roh ini selalu turut serta membantu keluarga yang ditinggalkan. Ritual ini masih diberlangsungkan hingga saat ini, dan diadakan setiap tiga tahun sekali. Ritual Ma’ nene menjadi suatu cara yang tetap dipegang teguh untuk menghormati leluhur. Kegiatan penghormatan ini diadakan dengan cara menggali kuburnya, mengganti pakaian mayat tersebut dan mendandaninya, kemudian membawanya pulang ke rumah. Suku Toraja sudah mengenal cara mengawetkan mayat dengan baik, sehingga umumnya mayat leluhur yang dibongkar masih tetap relatif baik kondisinya. Tradisi ini dimulai dari kisah seorang pemburu bernama Pong Rumasek dalam mendapati sebuah jasad tergeletak di tengah jalan dalam kondisi yang sangat buruk. Akhirnya menggerakan rasa iba di hatinya yang membuat Pong Rumasek memutuskan untuk melepaskan pakaian yang dikenakannya, dan memakaikan baju itu kepada mayat tersebut. Keajaiban terjadi saat Pong Rumasek pulang ke rumahnya. Ia mendapati kondisi lahan pertanian yang berada disana telah berubah menjadi siap dipanen, sedangkan waktu panen belum tiba. Hal ini yang menjadi kepercayaan turun temurun dan terus dilakukan oleh masyarakat Toraja yang menganggap hal ini dapat memberi jaminan akan kondisi tanah yang baik di kemudian hari. Ritual ini umumnya dilangsungkan berkisar setelah masa panen dikumpulkan hingga saat sebelum mengawali masa tanam yang baru.

Selain kedua perayaan tersebut, masih banyak kegiatan unik yang berbau mistis di berbagai wilayah Indonesia lainnya. Aneka kepercayaan ini umumnya diadakan berkaitan dengan hubungan antar kelompok yang bermusuhan, untuk membela kehormatan, perayaan untuk membuang sial, sebagai bentuk ungkapan belasungkawa, hingga tindakan yang dilakukan dalam menghukum pelanggaran adat dan norma hukum yang terjadi. Bagaimanakah masyarakat modern dapat menyingkapi kebudayaan unik seperti ini? Dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam hal positifnya, perayaan tradisi di daerah umumnya masih sangat mengangkat unsur yang kuat akan keluarga dan antar masyarakat. Hal inilah yang harus diingat dan terapkan dalam kehidupan masyarakat modern. Agar tidak menjadi terlalu individualis dan hanya mementingkan urusan diri sendiri saja.