Budaya Unik, Pentingkah Untuk Di Pertahankan?

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan 9 Agustus sebagai hari Masyarakat Adat Sedunia yang ditetapkan pada tahun 1994. Ketetapan ini diberlangsungkan untuk mengakui kontribusi dari adat masyarakat demi mendukung perlindungan kepada lingkungan. Tindakan ini diberlangsungkan dalam upaya untuk melestarikan bahasa adat sebagai upaya atas tindakan untuk membalikkan kemungkinan penghancuran historis atas punahnya dialek kuno. Hal ini diakibatkan oleh rendahnya faktor ekonomi beberapa suku di wilayah pedalaman tertentu, yang menyebabkan mereka tidak dapat bertahan hidup. Menurut PBB, Hari Internasional Masyarakat Adat Dunia juga dapat berperan dalam mendukung perkembangan tradisi masyarakat tersebut sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi.

Keunikan Kondisi Tubuh Akibat Berbagai Kebiasaan

1. Leher Super Panjang Ala Suku Karen Asal Thailand

Tradisi memanjangkan leher ini sudah menjadi kebiasaan unik yang berlangsung sejak dahulu kala di suku Karen. Suku ini pada mulanya berasal dari dataran tinggi Tibet. Namun sekarang, mereka menetap di kawasan Baan Tong Luang, tepatnya di distrik Mae Raem yang berada di daerah Chiang Mai, bersama dengan tujuh suku Thailand lainnya yang menempati wilayah bagian utara. Ada pula sebagian dari suku ini yang menetap di daerah Pet Pan, di negara Myanmar.

Kebiasaan ini banyak dilakukan oleh kaum wanita dari suku Karen, yang percaya bahwa semakin panjang leher yang dimiliki akan membuat penampilannya terlihat semakin anggun dan cantik. Upaya yang dilakukan dalam menciptakan leher panjang ini menggunakan tumpukan banyak cincin kuningan di leher. Faktor semakin panjangnya leher para wanita ini bisa terbentuk juga akan memberi kesan terpandang bagi wanita tersebut. Konon katanya akibat dari upaya menjenjangkan bagian leher ini, leher dari seluruh wanita yang sudah pernah dipanjangkan menjadi tidak lagi kuat menyanggah kepalanya. Sehingga cincin ini harus terus dipasang menjadi ‘kerangka’ bagi leher seumur hidup wanita tersebut. Hal ini menjadi perdebatan bagi banyak orang yang mengecam kebudayaan suku Karen ini sebagai bentuk upaya merusak tubuh.

2. Tato Badan Bermerek ‘Kalinga’ Dari Filipina

Mirip seperti suku Dayak yang berada di Kalimantan, suku Kalinga yang tinggal di Filipina ini juga memiliki tradisi dalam melukis bagian tubuhnya dengan tato. Tato ini diciptakan dengan metode ‘diukir’ pada sekujur tubuh dengan cara dipukul menggunakan peralatan kayu. Dimana tintanya terbuat dari campuran bahan alami gula dan jelaga, sehingga mampu menghasilkan warna hitam yang aman dipakai untuk kulit manusia.

Tato tersebut bukan terdiri dari corak gambar biasa, namun terdapat makna yang tersirat dibalik itu semua. Bahkan bertolak belakang dari pandangan kaum wanita yang menganggap pemakaian tato memberi tampilan yang menyeramkan, para wanita suku Kalinga mempercayai bahwa tato merepresentasikan gambaran perhiasan untuk mereka kenakan. Penggunaan tato ini bagi mereka juga melambangkan bahwa wanita tersebut sudah matang dan siap untuk dipinang. Pandangan ini mendapat kecaman dari banyak orang, terutama mereka yang menganggap pemakaian tato sebagai gambaran identik akan penjahat maupun kaum wanita yang tidak setuju akan penggambaran tato sebagai perhiasan.

3. Kepala Bertanduk Rambut Khas Suku Miao, China

Para perempuan di Suku Miao, yang tinggal di Guizhou, Tiongkok, memiliki tradisi unik dalam merias model rambutnya. Para kaum Hawa ini memelihara rambut mereka agar tumbuh panjang, serta mengumpulkan rerontokan dari rambut leluhurnya untuk dijadikan konde lebar yang memahkotai kepala mereka seperti terlihat dalam gambar berikut. Pembuatan ‘rambut berkonde’ ini digunakan dalam keperluan acara-acara adat disertai penggunaan pakaian tradisional yang bercorak cerah nan meriah.

Fakta lebih uniknya lagi, ‘mahkota’ yang dirangkai dari rambut tersebut diwariskan secara turun-temurun dari nenek ke anak perempuannya, hingga saat gadis itu dewasa dan menjadi seorang ibu, ia juga akan mewariskan ‘mahkota’ tersebut ke anak perempuannya. Tak heran kalau mahkota yang terbuat dari rambut tersebut ukurannya sangat besar dan menyerupai sebuah tanduk. Budaya ini mendapat kecaman dari beberapa orang kaum feminis, yang menganggap perayaan ini merepotkan para wanita yang melaksanakannya.

4. Menutup Hidung ‘Lambang Aurat’ Suku Apatani Di India

Suku Apatani yang tinggal di lembah Ziro, sebuah desa kecil di area Arunachal Pradesh, India. Penampilan para wanita di sana identik menggunakan tato lima garis yang dilukiskan di dagu serta melubangi kedua sisi hidungnya, lalu ditutup dengan kayu.

Hal ini dilakukan oleh para wanita tersebut dengan tujuan memberi kesan ‘kurang menarik’ agar mereka tidak dilirik oleh para pria dari suku lain. Mereka diharuskan untuk menggunakan hiasan hidung ini setiap harinya. Tradisi penggunaan ‘anting’ yang menjadi kebiasaan masyarakat suku ini sudah mulai berkurang, namun masih ada suku Apatani yang menjaga tradisi yang dimulai sejak 1970 ini. Meresponi budaya ini, beberapa kaum wanita ada yang melontarkan sejumlah kritik. Terutama bagi mereka yang tergolong kedalam kaum feminis dan mempertanyakan faktor kekuatan dari kaum wanita. Upaya masyarakat suku Apatani mempertahankan jati diri dalam membuat penampilannya terlihat jelek demi keamanan diri mereka dikecam merendahkan kualitas dari seorang wanita.

5. Bibir Lebar Sebesar Piring Khas Suku Mursi Di Ethiopia

Hal lain terjadi dalam kehidupan sosial para perempuan suku Mursi, atau yang biasa menyebut diri mereka sebagai suku Mun di Ethiopia. Bagi mereka, bibir lebar menjadi suatu keindahan. Semakin lebar ukuran bibirnya, ia akan terlihat semakin indah. Biasanya mereka menggunakan dekorasi yang ditempatkan di bibir ini menggunakan piring yang terbuat dari tanah liat atau kayu, yang berukuran 4 hingga 25 cm.

Sebelum dipasang di bibir, kebanyakan para wanita ini harus rela menanggalkan dua hingga empat giginya. Bahkan fakta yang lebih mengerikan lagi, mereka juga harus memotong bibir bagian bawahnya agar sesuai dan dapat dipasangkan dengan piring. Meskipun banyak orang terpukau hingga mengagumi keunikan budaya Ethiopia ini, namun beberapa diantaranya menanyakan manfaat dari pentingnya dilakukan kegiatan ini. Ditambah bentuk riasan yang dipakai suku Mursi sering dianggap seperti tampilan kulit berpenyakit.

Thaipusam yang Merasuki Suku Tamil

Hari Thaipusam diperingati oleh berbagai masyarakat Hindu yang tinggal di Asia seperti India, Malaysia, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, dan sebagainya. Mayoritas para suku-suku ini merupakan keturunan dari suku Tamil, bangsa Dravida yang berasal dari daerah Asia Selatan. 

Perayaan Thaipusam ini digelar sebagai wujud dalam menghormati Muragan, Dewa dalam kepercayaan Perang Hindu. Sebagai wujud dalam membuktikan penghormatan dan penebusan dosa, beberapa orang ini umumnya akan menempelkan berbagai tusukan ke kulit di bagian dada depan dan punggung belakang. Ritual ini berlangsung pada bulan ke-10 yang menggunakan sistem penanggalan kalender Hindu. Banyak orang yang menyaksikan kegiatan ini kerap menanyakan apa manfaat dari perayaan ekstrim ini. Ditambah faktor bahwa para pria yang melakukan atraksi penyembahan ini harus berada dalam kondisi trance (kerasukan).

Piknik Bertabur Bunga Cantik Di Jepang

Terdapat sebuah tradisi yang dinamakan Hanami di Jepang. Kebiasaan ini umumnya diadakan pada saat pohon sakura mulai bermekaran. Pada mulanya kegiatan ini hanya diadakan dalam kaum keluarga bangsawan, lalu kebiasaan ini mulai menyebar ke kalangan para shinsegumi (samurai) hingga akhirnya dirayakan oleh masyarakat Jepang luas.

Terdapat sedikit perubahan yang terjadi dalam perayaan Hanami ini. Berbeda dari yang dilangsungkan pada masa kini, pada jaman dulu masyarakat Jepang berkumpul di bawah pohon sakura sambil membuat dan melantangkan puisi klasik buatannya. Di Jepang, hanya ada beberapa lokasi yang dapat dipakai untuk merayakan festival Hanamiyaitu di Tokyo, Osaka, Nagoya, Hiroshima, Kyoto, dan beberapa kota lainnya dimana pohon sakura bisa tumbuh. Meskipun terlihat sebagai kegiatan yang bermanfaat, beberapa orang mengecam konsep yang diterapkan dari acara Hanami ini. ‘Menikmati keindahan, makan, minum dan bersenang-senang’, menjadi pemikiran sebagai landasan perayaan Hanami yang dianggap kaum modern perfeksionis sebagai aktivitas yang sia-sia.

Waktunya Tulip Khas Belanda

Masyarakat Belanda menyambut mekarnya bunga tulip dengan menjalankan tradisi Tulip Time. Acara berlangsung sekitar tanggal 5-13 Mei dimana banyak masyarakat lokal yang menggelar parade. Mereka mengenakan pakaian tradisional Belanda, membawa pasangannya untuk menari bersama, atau dengan teman maupun saudara bagi anak-anak, sambil menyanyikan lagu khas. Sebagian orang ada yang mengecam aktivitas ini karena menganggap bahwa sebenarnya bunga tulip tidak berasal dari Belanda. Sehingga orang Belanda dianggap telah memanfaatkan hal ini sebagai bentuk mencuri kebudayaan dari luar.

Perayaan Bertema Makanan

1. Festival Keju Bulat Berlari Khas Inggris

Buku Fotheringham’s Sporting Trivia karya Will Fotheringham Cheese Rolling Races menjadi landasan utama dari berlakunya kegiatan ini yang sudah berlangsung sejak 400 tahun. Aktivitas balapan yang dilakukan di atas bukit ini menandakan dimulainya musim panas. Para masyarakat Inggris juga menjalani Festival keju dengan harapan memperoleh hasil panen yang baik saat waktunya. Semua orang bisa mengikutinya acara perlombaan ini dengan hadiah utama mendapatkan keju terbaik buatan Diana Smart.

2. ‘Simulasi Perang’ Berbahan Tomat Kreasi Spanyol

Ribuan kilo tomat dipersiapkan sebagai ‘amunisi perang’ yang diadakan selama satu jam dalam festival yang disebut La Tomatina oleh warga setempat. Acara ini berlangsung di desa Buñol, bagian selatan dari negara Spanyol setiap 31 Agustus. Puluhan ribu turis juga datang ke acara yang digelar rutin setiap tahun ini. Agar tidak mencederai para pesertanya saat dilempar, buah tomat ini akan ditekan terlebih dahulu agar lebih lunak sebelum dilempar.

3. Parade Karnaval Emas Bola Jeruk Sunkist

Karnaval jeruk sunkis ini digelar di desa Ivrea bagian utara dari Italia dan diadakan rutin setiap bulan Februari. Acara ini menjadi simbol dari aksi perlawanan rakyat di abad pertengahan. Selama tiga hari, berbagai orang yang tergabung kedalam beberapa kelompok yang naik kereta karnaval dan mulai berperang dengan saling melempar jeruk. Penonton di sekitar juga boleh ikut serta melempari jeruk. Hanya perlu lebih diperhatikan, karena buah jeruk ini lebih keras daripada tomat. Sehingga hidung bisa berdarah atau memberi memar di kepala saat mengenai wajah.

Ketiga jenis perayaan ini terlihat unik bagi banyak orang yang melihatnya. Namun beberapa orang lainnya mengecam, karena menganggap hal ini sebagai wujud ‘buang-buang makanan’. Terutama saat membandingkan banyak negara lain masih mengalami kesulitan untuk mencukupi salah satu kebutuhan utama tersebut bagi masyarakatnya.