Tradisi Kematian Paling Mengerikan di Dunia

Kematian adalah salah satu fenomena yang paling tidak bisa dijelaskan yang akan dialami dalam kehidupan siapa saja. Ada berbagai pendapat tentang apa yang akan terjadi ketika seseorang meninggal dunia. Misalnya itu seperti akan kemanakah arwah atau jiwa itu akan pergi? Beberapa orang pasti memiliki jawabannya masing masing dan sudah pasti tidak akan ada yang sama, walaupun sudah pasti ada juga yang tidak mengetahui jiwa orang yang meninggal akan kemana. Manusia adalah spesies yang langka karena melakukan kedukaan setelah seseorang sanak keluarga ada yang meninggal, misalnya melalui perkabungan tangkasnet terbaru, doa, dan juga perasaan yang amat kepedihan. Ada beberapa cara untuk orang merasakan berduka yang terdengar sangat tidak biasa dan juga pasti sangat asing untuk kalian semua dan juga untuk pandangan masa kini. Berikut ini ada beberapa cara tradisi orang yang berkabung.

Membalik Tulang

Praktik untuk membalik tulang yang ada di Madagaskar ini sudah dikenal dengan sebutan ‘famadihana’. Kerabat orang yang sudah meninggal akan membongkar kuburan seseorang dan menggelar sebuah pesta besar-besaran bersama dengan jasad mendiang yang sudah dikubur.

Perayaan akan berlangsung setiap 5 tahun sekali hingga benar-benar jasad tersebut benar-benar sudah meluruh ke tanah dan menyatu dengan tanah karena hal ini dianggap mendiang sudah pergi arwahnya. Hal ini memang terlihat sangat traumatis, tapi pesta yang dilakukan oleh orang orang tersebut dengan jasad yang masih rapi terbungkus. 

Menyapu Makam

Menyapu makam merupakan praktik di Toraja, Indonesia, dan pada dasarnya mirip dengan pembalikan tulang di Madagaskar. Di Toraja, para kerabat mendatangi makam, mengambil jasad, lalu membersihkan baik kuburan maupun jasad tersebut.

Kadang-kadang, pakaiannya diganti dan rambut tersisa dirapikan. Kemudian, diberi bunga dan hiasan. Bisa juga ada pesta kecil, lalu kemudian jasadnya kembali ke makam.

Selfie Bersama Jasad

  • Fotografi Orang Mati

Fotografi orang mati cukup lazim pada masa era Victoria Inggris ketika kamera tidak sebanyak sekarang dan proses foto berlangsung lama serta mahal. Dengan demikian, jarang ada anggota keluarga yang memiliki foto seseorang yang mereka cintai karena sudah terlanjur meninggal dunia.

Dengan demikian, foto seseorang yang sudah meninggal mungkin merupakan foto satu-satunya para anggota keluarga bersama orang itu. Seringkali, anak-anak dan balita menjadi obyek foto karena angka kematian anak dan balita yang jauh lebih tinggi daripada sekarang. Biasanya mudah mengenali foto orang yang sudah mati ketika dikelilingi oleh kerabat karena mereka yang masih hidup cenderung bergerak-gerak ketika proses foto dilakukan. Pada zaman itu, proses pengambilan foto lebih lama daripada sekarang.

  • Peti Mati Tergantung

Proses penggantungan peti mati lazim bagi beberapa budaya berbeza, tapi terutama dilakukan di China. Dalam praktiknya, peti mati digantung kan dari tebing. Ada pasak-pasak di sisi tebing untuk memegang peti mati itu.

Mereka percaya bahwa penempatan jasad di tempat yang lebih tinggi akan membantu mendekati angkasa dan lebih aman dari hewan dan gangguan lain. Beberapa budaya juga mengumpulkan air yang mengumpul dalam peti mati dan membutuhkannya ke seluruh tubuh agar merasa lebih dekat dengan yang sudah meninggal.

  • Amputasi Jari

Ritual yang sekarang sudah dilarang ini dulunya lazim di kalangan suku Dani di Papua Nugini. Anggota suku memotong jari-jari mereka ketika ditinggal mati orang yang dicintai sebagai simbol kepedihan dan penderitaan ketika kehilangan. Ritual itu juga dianggap mengusir roh-roh jahat.

Untuk memotong sebuah jari, pelaku mengikatkan tali dengan ketatnya pada jari yang akan dipotong. Kemudian seorang anggota keluarga akan memotongnya dengan kapak dan mengeringkan lukanya. Pemotongan dilakukan setiap ada anggota keluarga dekat yang meninggal dunia.

  • Endocannibalism 

Kanibalisme adalah praktik mengerikan ketika seseorang menyantap manusia lain. Tapi, tidak mengerikan bagi sejumlah budaya karena menyantap jasad seseorang yang dicintai adalah cara terbaik untuk menghibur kedukaan. Hal demikian disebut endocannibalism.

Praktik itu tidak khas hanya untuk satu budaya tertentu, karena ditemukan terjadi di berbagai budaya dan suku di seluruh dunia. Bagi sejumlah orang, cara terbaik mengucapkan selamat tinggal adalah dengan memotong-motong jasad, memakannya, dan mencernanya. Hal itu menjadi cara pemanfaatan terbaik suatu jasad sekaligus menyerap apa yang tersisa.

  • Makam Langit

Makam langit adalah praktik lazim di kalangan penganut Buddha di Tibet. Jasad seseorang di bawah ke puncak pegunungan, di tempat terbuka dan dibiarkan meluruh di bawah matahari sekaligus menjadi santapan bagi hewan-hewan buas terutama burung-burung.

Burung-burung itu kemudian terbang ke tempat-tempat jauh dan menyebarkan bagian-bagian jasad ke beberapa tempat yang berbeda. Bagi beberapa budaya, ketika burung dan hewan luar menyantap kulit dan bagian dalam seseorang dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari. Tapi, dalam beberapa agama, tubuh ini hanyalah kendaraan atau ‘sarana’ bagi jiwa yang kegunaannya tidak diperlukan lagi ketika nyawa sudah meninggalkannya.

Budak Seks Dibakar Hidup-hidup

  • Bangsa Viking dan Budak Malang

Bangsa Viking digambarkan sebagai bangsa yang cukup brutal, bahkan pemakamannya pun ekstrem. Ketika Pimpinan suku meninggal dunia, warga segera menguburkannya. Lalu, selama 10 hari, mereka mempersiapkan pakaian yang akan dipakai dan sesajen ayam dan ternak lain yang akan dikremasi bersamanya.

Setelah 10 hari, mereka menggali jasadnya dan mempersiapkan satu atau dua budak yang biasanya wanita untuk dikremasi bersama agar membantu Pimpinan di kehidupan kemudian. Selama 10 hari penantian itu jugalah budak-budak tersebut melayani seks warga suku sebagai bentuk kecintaan kepada sang Pimpinan. Pada akhirnya, budak-budak itu dibakar hidup-hidup ketika dilakukan kremasi terhadap jasad sang Pimpinan.

  • Pemakaman Tengkorak

Ini adalah salah satu praktik yang hanya dilakukan di suatu desa di pulau Kiribati. Jasad seseorang yang meninggal dikubur di depan rumah dan selama beberapa bulan ke depan, setelah jasad sudah cukup meluruh, warga menggali lagi kuburan itu untuk mengambil tengkoraknya.

Tengkorak itu kemudian dibersihkan dan dipoles, lalu disuguhi sesajen dan tembakau, lalu ditaruh di tempat tertinggi dalam rumah.

  • Mumifikasi Diri

Praktik ini pernah lazim di kalangan para rahib Buddha di Jepang. Ritual itu melibatkan 3000 hari pelatihan dan pada dasarnya membiarkan rahib itu kelaparan. Ia bahkan meminum cairan yang membuatnya muntah. Ketika tiba waktunya, ia akan duduk dalam makam dalam keadaan hampir kedap dan hanya menyisakan sedikit celah untuk udara. Rahib itu duduk melantunkan doa terus menerus sambil mendentingkan bel.

Setelah semua dentingan berhenti, orang yang di luar menganggap ia sudah mati dan menutup makamnya. Tiga tahun kemudian, makam dibuka untuk memastikan.

  • Totem Kematian

Tiang totem sebagai praktik lazim suku-suku pribumi di barat daya Amerika biasanya menjadi simbol keindahan kehidupan seseorang. Tapi ada satu jenis yang menyeramkan, yaitu tiang totem kematian.

Pada tiang itu, diukirkan lubang pada tiang, lalu jasad pemimpin dijejalkan ke dalam. Karena lubangnya biasanya terlalu sempit, maka jasad dipukuli hingga lunak dengan menggunakan tongkat kayu.